Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi

Kebiri untuk PEMERKOSA

Rasanya semua orang sudah tahu bahwa kerusuhan 14 Mei dan hari selanjutnya menyisakan korban perkosaan yang menurut majalah D&R mencapai 200 orang. Sungguh perbuatan yang sangat BIADAB !!

Mulanya saya cuma tahu bahwa aksi massa yang tadinya bermula dari Grogol itu cuma penjarahan dan pembakaran toko dan bank. Dan saya berpikir dengan "arifnya" bahwa sudah sepantasnya bila rakyat yang sudah berpuluh tahun hidup dibawah tekanan dan kondisi yang sangat sulit memperoleh kesempatan untuk berpesta. Bila dulu mereka cuma bisa menatap kosong pada orang-orang berduit yang keluar dari swalayan sambil membawa belanjaan, kini mereka pun bisa masuk swalayan dan membawa pulang "belanjaan" yang didiskon 100%.

Terharu hati rasanya kalau saya mengingat bahwa memang diantara penjarah itu adalah orang-orang yang sulit hidupnya. Orang-orang yang tempat tinggalnya cuma sebesar kamar mandi rumah saya itu akhirnya bisa memiliki mungkin cuma sekedar makanan yang diambil dari rak swalayan yang mereka jarah. Singkat kata, peristiwa penjarahan itu sama sekali tidak masuk ke hati saya. Walaupun saya sendiri tidak bisa tidur sampe jam tiga pagi karena tetangga saya yang kebetulan berkulit putih dan bermata sipit merasa tidak aman dan meminta agar warga turut siskamling. Tapi saya masih bisa tertidur dengan tenang tanpa terganggu sedikit pun.

Tapi sekarang saya tahu bahwa kerusuhan pertengahan Mei itu ternyata termasuk perkosaan dan pembantaian manusia. Wanita-wanita tak berdaya diperkosa di hadapan keluarganya dan setelah itu dilemparkan ke dalam api. Untuk cerita menyeramkan yang lengkap saya sarankan anda mencari di Internet. Saya tersentak dan sangat-sangat terpukul. Wanita kembali lagi menjadi obyek kebiadaban para lelaki ! Saya muak dengan kejumawaan laki-laki yang dengan entengnya memperkosa wanita bila otaknya sudah pindah ke bokong ! Konon kabarnya perkosaan itu dilakukan kelompok terorganisir. BODO AMAT dengan kelompok terorganisir itu, yang saya tahu bahwa tindak perkosaan itu dilakukan oleh segerombolan laki-laki tak berhati dan tak bermoral kepada sejumlah wanita yang tak berdaya.

Di negeri ini wanita tidak dilindungi sebagaimana mestinya. Untuk contoh konkrit saja adalah hukuman bagi para pemerkosa. Hanya diganjar dengan penjara hitungan bulan. Sementara kepedihan dan luka para korban perkosaan itu membekas sampai mati. Padahal di negeri ini kebudayaan mengajarkan bahwa kaum wanita harus dihormati, paling tidak itu yang seharusnya terpatri di sanubari para laki-laki yang tinggal di negeri mayoritas beragama Islam. Tetapi yang terjadi tidak begitu, di negeri ini wanita masih menjadi obyek. Wanita masih berdiri selangkah di belakang laki-laki. Wanita masih tidak dianggap sebagai makhluk yang sederajat, sama kemampuan dan dihormati sebagaimana layaknya laki-laki.

Perkosaan harus diganjar dengan hukuman kebiri !!

Saya tahu banyak yang menentang ide ini, terutama laki-laki karena "ngeri" membayangkan bila simbol kejumawaannya itu dihilangkan. Padahal itulah yang sepantasnya diterima oleh pemerkosa. Hukum mati saja tidak cukup karena kematian bukanlah hukuman. Dengan hukuman kebiri, para calon pemerkosa akan berpikir tiga juta kali untuk melakukan tindak perkosaan. Terutama perkosaan yang dilakukan beramai-ramai. Saya tidak tahu apa yang ada di benak para laki-laki biadab itu.

Laki-laki selalu menganggap wanita sebagai obyek seks dan mereka juga menganggap wanita itu lemah sehingga dengan mudahnya bisa diperkosa. Wanita pun harus berani mempertahankan harga dirinya. Kalau perlu berkelahi sampai mati demi membela kehormatannya. Itu juga tidak dilakukan para korban. Mereka cenderung pasrah dan berharap agar derita ini segera berlalu. Padahal yang menderita kan mereka-mereka juga. Pola pikir pasrah dan menerima keadaan ini juga harus diubah. Wanita harus belajar mempertahankan dan membela diri. Wanita harus mencamkan dalam hatinya bahwa mereka harus menolak segala bentuk paksaan yang disebabkan karena dirinya adalah wanita. Kalau laki-laki bisa, tentunya wanita lebih bisa.

Saya melihat bahwa wanita Indonesia sangat berkualitas. Tetapi kebudayaan di negeri ini mengajarkan bahwa wanita tidak baik bila terlalu berambisi dan berusaha bersaing dengan laki-laki. Tapi lihatlah yang terjadi, perkosaan tidak ditangani dengan "serius". Masyarakat cenderung melihat korban perkosaan seperti korban kecelakaan lalu lintas yang cedera ringan. Ah, paling-paling sebentar juga sembuh ! Mungkin ada baiknya para laki-laki pemerkosa itu juga merasakan diperkosa. Jadi mereka tahu betapa menyakitkan bila diperkosa.

Jadi disiapkan sejumlah laki-laki gay yang kekar, yang siap memperkosa laki-laki normal ini. Ha ha ha !! Saya akan tertawa puas bila hal ini bisa dilaksanakan. Biar laki-laki tahu rasa dan tidak sembarangan mencobloskan barangnya yang tidak ada artinya itu ke tempat yang dia mau !!!

Hukuman kebiri memang sangat pantas untuk pemerkosa biadab itu. Penjara saja tidak akan menyadarkan mereka. Mungkin Kaisar Cina masih membutuhkan beberapa puluh Kasim untuk menjaga selirnya..... Ha ha ha !!

Senja Miranti
j1ngg4@hotmail.com