Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi

SEBUAH DESA DI LERENG GUNUNG SLAMET

Sore ini saat kudengar rintik-rintik hujan menetes jatuh dari atap menuju ke tanah. Saat tercium bau tanah basah di kejauhan, aku kembali teringat masa-masa di SMA dulu. Jika melihat hujan yang hampir berhenti, ingatanku selalu teringat pada saat-saat kegiatan bakti sosial semasa SMA. SMA ku dulu selalu mengadakan bakti sosial pada bulan-bulan hujan, biasanya diadakan di bulan November. Entah mengapa, tapi itu sudah menjadi semacam tradisi di SMA kami. Lokasi yang dipilih selalu desa-desa miskin di lerang gunung Slamet dengan satu syarat yang mungkin terdengar unik: daerahnya belum dimasuki aliran listrik.

Tinggal tiga hingga empat hari di sebuah desa pegunungan yang belum terlalu tersentuh teknologi modern, saat itu sangat mengasikkan untukku. Biasanya di daerah seperti itu pada bulan-bulan musim penghujan, hujan selalu turun selepas ashar dan mulai berhenti menjelang petang. Hujan biasanya baru benar-benar berhenti menjelang adzan Isya. Saat-saat petang itulah yang sangat kunikmati. Biasanya bersama beberapa orang teman ditemani tuan rumah yang kami tumpangi, sambil menunggu waktu sholat Maghrib kami mengobrol bersama sambil menikmati teh atau kopi panas ditemani dengan hidangan sederhana seperti kacang rebus atau singkong rebus. Sambil mengobrol kami mendengarkan sisa-sisa air hujan yang berirama setetes demi setetes jatuh dari atap rumah menuju ke tanah basah yang mengeluarkan aroma yang khas.

Tinggal beberapa hari bersama dengan penduduk desa yang lugu dan sangat bersahabat itu sangat menyenangkan sekali buatku. Mereka adalah orang-orang yang rata-rata tidak mengenyam bangku sekolah sama sekali, tetapi sikap mereka sangat sopan dan beradat. Kadangkala kedatangan kami ke desa mereka cenderung merepotkan daripada membantu mereka, tapi kepedulian kami terhadap mereka sudah dianggap semacam anugerah yang sangat mereka syukuri. Mereka memperlakukan kami seperti seorang sahabat lama yang datang menginap di rumahnya. Kalau sedang berbincang-bincang dengan mereka, rasanya tidak bisa dibayangkan jika seseorang tega menyakiti atau mengambil hak-hak Rakyat kecil seperti mereka.

Beberapa saat yang lalu propinsi Jawa Tengah dinyatakan sebagai propinsi dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Indonesia. Berita-berita yang kubaca di berbagai media massa juga menyebutkan kelaparan sudah merebak di berbagai tempat di propinsi asalku itu.

Saat hujan rintik-rintik sambil membaca email-email yang dikirimkan padaku aku bertanya-tanya, bagaimana nasib sahabat-sahabatku penduduk desa itu sekarang? Kelaparan mungkin tidak, desanya subur. Hanya mungkin mereka tidak lagi menikmati singkong rebusnya dengan teh atau kopi yang nasgitel. Harga gula dan kopi sepertinya sudah tidak bisa terjangkau lagi oleh pendapatan mereka yang tidak mungkin terbayangkan jumlahnya oleh orang-orang yang tinggal di daerah perkotaan, yah biarkanlah mereka sementara ini minum air putih saja atau mungkin sekalian mutih, harga lauk-pauk sepertinya juga sudah tidak terjangkau lagi. Atau mungkin mereka menerapkan puasa Senen-Kemis seperti yang dihimbau oleh Habibie, ah.. sepertinya mereka tidak sesantri itu.. sekedar sholat lima waktu mungkin. Sebagian setahuku malahan abangan.

Lalu bagaimana dengan nasib anak-anaknya? Seingatku di desa itu jumlah balitanya cukup banyak, tak tahu karena mereka belum mengenal program KB atau karena udaranya yang relatif dingin. Entahlah… Yang ingin kuketahui bagaimana caranya orang tua mereka mencukupi kebutuhan gizi mereka. Atau mungkin dibiarkannya anak-anaknya itu kekurangan gizi, tingkat pendidikan mereka terlalu rendah untuk memikirkan masalah gizi anaknya sementara bahan-bahan kebutuhan pokok mereka tak lagi terjangkau.

Berarti nantinya adik-adikku itu akan mempunyai tingkat kecerdasan yang jauh dibawah kakak-kakaknya. Bukankah generasi mereka yang akan memimpin bangsa ini di pertengahan abad ke-21 nanti? Bukankah saat itu sudah berlaku globalisasi dan mereka harus bersaing ketat dengan bangsa-bangsa lainnya? Bagaimana mereka akan menghadapinya dengan kemampuan yang pas-pasan tersebut?

Ah… aku ingin sekali kembali ke desa itu. Aku ingin kembali menikmati hangatnya singkong rebus dan kopi yang nasgitel sambil bercengkrama dengan penduduk-penduduk desa yang sopan dan lugu itu.

Tapi masih adakah suasana seperti itu di sana? Kalau bangsa Indonesia yang dulu terkenal ramah sekarang sudah sangat beringas. Kalau bangsa dulu terkenal sangat menjunjung tinggi agama dan adat-istiadat sekarang selalu melakukan pembakaran dan penjarahan jika tidak puas? Bahkan kalau perlu memperkosa? Yah.. hujan sudah berhenti.. aroma tanah basah yang khas masih bisa tercium jelas olehku, mungkin jauh berbeda dengan suasana di desa lereng gunung Slamet pada saat aku SMA itu, tapi setidaknya polusi, debu-debu dan udara yang tidak lebih dingin dari kepala penduduknya untuk sejenak menghilang dari udara Jakarta yang sumpek ini. Kalau saja…


Sigit Widodo