Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi

Amuk Massa Merebak di Indonesia


Suluh Demokrasi - Krisis ekonomi sudah mulai memasuki fase ketiga.  Kalau pada fase pertama, hanya golongan pengusaha yang terkena dampaknya dan pada fase kedua golongan menengah terkena dampaknya, pada fase ketiga krisis ekonomi sudah berdampak pada seluruh lapisan masyarakat.  Pada fase ini yang justru paling terkena dampaknya adalah masyarakat di lapisan bawah.  Kenaikan harga yang sangat drastis, diikuti oleh turunnya pendapatan rakyat jelas semakin membuat semakin sulit kehidupan mereka yang pada masa "normal" dulu sudah cukup sulit.


Himpitan ekonomi yang semakin berat akhirnya disalurkan dengan mengadakan aksi massa dengan sasaran golongan etnis minoritas keturunan Cina yang rata-rata kondisi ekonominya lebih baik dan merupakan penyalur barang-barang kebutuhan pokok yang harganya semakin membumbung tinggi itu.  Amuk massa dengan pola yang hampir sama ini merebak ke seantero tanah air tercinta.  Tercatat puluhan kota terkena aksi massa ini pada bulan Februari.  Dimulai dari ujung timur pulau jawa dan menyebar tanpa bisa dihentikan.  Banyuwangi, Jember, Pasuruan, Tuban, Rembang, Solo, Pekalongan, Bumiayu, Cilacap, Cirebon, Pamanukan, Subang, Majalengka, Sumedang dan beberapa kota lainnya di pulau Jawa luluh lantak oleh amukan massa.  Aksi serupa juga terjadi di luar Jawa, seperti: Ujung Pandang, Palu, Lombok, Bima, Ende.
  

Aksi massa yang semula hanya mengarah ke tempat-tempat penjualan kebutuhan pokok, melebar ke arah rumah-rumah ibadah.  Korban jiwa pun mulai berjatuhan, khususnya di pihak massa yang terpaksa ditembak di tempat oleh aparat keamanan.

Antri SEMBAKO  Ketakutan saat ini melanda hampir seluruh warga keturunan Cina.  Bagi mereka yang tingkat kemampuan ekonominya cukup tinggi, kabarnya sudah memesan tiket pesawat ke luar negeri, apabila sewaktu-waktu kerusuhan rasial besar-besaran melanda Indonesia.  Toko-toko di beberapa kota menuliskan kata-kata "Milik Pribumi" atau "Muslim Pribumi" untuk mencegah massa menghancurkan toko tersebut.

Nampaknya aksi massa ini juga cenderung dibiarkan (kalau tidak boleh dibilang dipanas-panasi) oleh pemerintah.  Bererapa pengamat politik memperkirakan aksi massa yang bermuatan SARA ini merupakan pengalihan oleh pemerintah, agar sasaran massa tidak mengarah ke pemerintah.  Dimulai dengan diperiksanya pengusaha keturunan Cina, Sofyan Wanandi yang dituduh terlibat membiayai kegiatan Partai Rakyat Demokrasi.  Kebetulan Sofyan Wanandi adalah salah seorang pimpinan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang selama ini di-cap anti-Islam.  Bahkan Jendral Feisal Tanjung sempat mengecap Sofyan, yang merupakan tokoh angkatan '66, sebagai bukan warga negara yang baik.  Kemudian beberapa pemuda yang menamakan dirinya Front Aksi Pemuda Islam Jabotabek mendemonstrasi  kantor CSIS.  Herannya, tidak seperti demonstrasi-demonstrasi yang lain, demonstrasi ini seperti dibiarkan oleh pihak aparat keamanan.

Belakangan pihak aparat keamanan mulai melakukan pengerebegan ke gudang-gudang milik pedagang keturunan Cina yang dicurigai menimbun bahan-bahan kebutuhan pokok masyarakat.  Media massa dengan gencar memberitakan tentang penimbunan bahan-bahan kebutuhan pokok tersebut.  Tentu saja golongan masyarakat yang berpendidikan rendah akan cenderung menyalahkan golongan masyarakat keturunan Cina, tanpa melihatnya kasus per kasus.

Ibu Megawati Soekarno Putri, ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia, dalam pidato Idul Fitrinya mengingatkan agar Rakyat jangan menjadikan isu SARA sebagai sasaran "Oleh karena itu, atas kebangkrutan negara yang terjadi sekarang ini, ajukan tuntutan pertanggung jawaban pada alamat yang benar. Sekali lagi saya tegaskan jangan salah alamat !", ujarnya.

Kondisi masyarakat yang mudah terpancing isu SARA saat ini tentunya sangat rawan untuk persatuan dan kesatuan bangsa dan dapat mengarah terciptanya disintegrasi di dalam diri bangsa Indonesia. "Hal itu sungguh merupakan manuver politik yang sangat beresiko tinggi, karena akan memicu kian membesar dan melebarnya ancaman bahaya terhadap persatuan dan kesatuan bangsa kita", kata Mega.

Entah kapan rentetan amuk massa ini akan selesai.  Yang jelas bahan-bahan kebutuhan pokok semakin menghilang dari pasaran dan kalaupun ada harganya sudah melambung tinggi.  Kondisi ini akan semakin diperparah dengan kenaikan harga BBM dan tarif angkutan umum mulai April ini.  Sebaiknya pemerintah segera mencari solusi terbaik daripada menyodorkan kambing hitam kepada Rakyat.  Lagipula menurut penelitian Centre for the Study of Development And Democracy (CESDA), masyarakat yang berpendidikan tinggi sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah.  (sw/sd)