Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi
Soeharto Presiden Kita, Habibie Wapres Kita



Suluh Demokrasi - Tiga pekan sebelum dimulainya Sidang Umum MPR 1998,  Rakyat Indonesia sudah dapat mengetahui dengan pasti siapa Presiden dan wakil presiden "baru"-nya.  Dimulai dengan pengumuman pencalonan Wakil Presiden oleh DPP Partai Persatuan Pembangunan pada hari Minggu tanggal 15 Februari. "Secara aklamasi, PPP hanya mencalonkan satu nama untuk wapres, yaitu Habibie," kata Ismail Hasan Metareum, seusai memimpin rapat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP di Jakarta. Habibie

Golongan Karya (Golkar) dan "Partai Demokrasi Indonesia"  versi pemerintah (PDI-Soerjadi) menyusul sehari kemudian, Senin, 16 Februari. "Saya memberi kesempatan kepada kader Golkar, Bapak Habibie, untuk dicalonkan sebagai wapres," kata Ketua Umum Golkar Harmoko. "Profesor Habibie telah diputuskan secara mufakat dalam rapat sebagai satu-satunya calon wapres," kata Soerjadi.

Fraksi Utusan Daerah dan Fraksi ABRI, juga memutuskan untuk mencalonkan Prof. Dr. B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden RI periode 1998-2003.  Walupun terdengar kabar bahwa sebenarnya ABRI, kecuali Jendral "santri" Feisal Tanjung, kurang menyukai Habibie, namun pencalonan Habibie menjadi Wapres sepertinya sudah tidak terbendung lagi.  Pergantian pucuk pimpinan ABRI dari Jendral Feisal Tanjung kepada Jendral Wiranto pun, tidak akan banyak berpengaruh, karena Panglima tertinggi ABRI (presiden) sudah terang-terangan merestui pencalonan Habibie tersebut.

Penolakan Habibie kabarnya tidak terjadi di kalangan ABRI saja, Kelompok Induk Organisasi (Kino) Golkar pun konon banyak yang tidak menyukai Habibie, hingga presiden melarang Kino-kino Golkar untuk menyebutkan nama Calon Wakil Presiden, dan cukup menyebutkan kriterianya saja.  Kabarnya Bambang Tri dan Mbak Tutut juga sebenarnya menolak pencalonan tersebut.

Tantangan lain yang dihadapi Habibie adalah dari kalangan ekonom yang selama ini menganggap Habibie sebagai pemboros dengan program-program ipteknya yang menghabiskan dana besar tanpa menghasilkan profit.  Dari kalangan ini muncul nama Emir Salim sebagai nama alternatif Calon Wakil Presiden.  Pencalonan Emil yang didukung oleh orang-orang Golkar sendiri, dinilai oleh sudah mengkhawatirkan sehingga DPP Golkar mengancam me-recall anggotanya di DPR yang mendukung pencalonan Emir Salim.

Untuk calon Presiden RI periode 1998-2003, nama Jendral (purn) H.M. Soeharto masih tetap berkibar.  Walaupun kesediaan Soeharto dipilih kembali Januari lalu sempat menjatuhkan nilai rupiah ke tingkat Rp 16.000,- per US$, namun hingga saat ini belum terdapat nama alternatif untuk calon Presiden.  Di luar sistem memang muncul nama Megawati Soekarno Putri dan Amien Rais sebagai calon presiden, namun aspirasi ini agaknya dianggap sebagai angin lalu oleh para "wakil rakyat" yang duduk di MPR.  Kontroversi pencalonan Megawati dan Amien Rais yang mendapat dukungan dari kalangan LSM dan mahasiswa ini juga belakangan kalah oleh pemberitaan pencalonan Emil Salim sebagai alternatif calon Wapres. 

Agaknya rakyat Indonesia memang masih harus dipimpin oleh Jendral sepuh berusia 78 tahun yang kali ini akan didampingi oleh anak emasnya yang jenius dan pinter bikin bikin pesawat.  Hebat... bisa terbang! (sw/sd)