Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi

8,7 Juta Tenaga Kerja Menganggur
Potensial Menyebabkan Krisis Sosial-Politik



Suluh Demokrasi - Akibat krisis ekonomi tahun ini, jumlah tenaga kerja yang menganggur meningkat menjadi sekitar 8,7 juta. Dari jumlah itu 4,5 juta adalah penganggur tahun lalu. Sedangkan 1,5 juta karena terkena PHK dan 2,7 juta merupakan angkatan kerja baru yang tidak terserap lapangan kerja tahun ini.

Angka tersebut merupakan angka resmi dari Departemen Tenaga Kerja yang berarti belum menunjukkan kondisi riil di tanah air.  Hingga saat ini, pemerintah Indonesia belum menggunakan standar internasional untuk menentukan jumlah penggangguran di Indonesia.  Sebagai contoh, seseorang yang hanya bekerja selama sepuluh jam per minggu pun sudah dianggap bukan pengganggur oleh pemerintah.  Pemerintah juga tidak menggunakan nilai upah minimum untuk menetapkan jumlah penggangguran.  Jadi seseorang yang hanya berpenghasilan seribu rupiah sehari pun juga dianggap bukan pengangguran oleh pemerintah.

Padat Karya

Belum didapatkan angka yang pasti tentang jumlah pengangguran riil di Indonesia.  Yang jelas sudah puluhan juta tenaga kerja mengganggur di Indonesia dan akan terus bertambah karena jumlah perusahaan yang berguguran akibat krisis ekonomi semakin hari semakin bertambah banyak.  Tingkat penggangguran yang sangat tinggi ini sangat potensial untuk berkembangnya krisis ekonomi saat ini menjadi krisis sosial dan krisis politik. Bulan Februari ini saja setidaknya sudah duapuluh kota dilanda kerusuhan sosial, akibat melambungnya harga-harga kebutuhan pokok sehari-hari.  Kondisi ini diperkirakan akan semakin memburuk dua-tiga bulan lagi, saat tabungan masyarakat yang terkena PHK diperkirakan sudah habis terkonsumsi.  Bila hingga saat itu pemerintah belum menemukan solusi untuk mengatasi krisis ekonomi yang sekarang menerpa Indonesia, jutaan rakyat yang kelaparan tidak akan dapat dibendung lagi oleh aparat dan diperkirakan akan terjadi kerusuhan sosial-politik yang sangat parah.Ketua Dewan Direksi Cides di depan pesera seminar "Pemberdayaan Keluarga dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan'' mengatakan, "Di antara para penganggur tersebut terdapat penganggur terdidik yang jumlahnya tidak sedikit. Akibatnya, krisis ekonomi yang berkembang menjadi krisis sosial, kali ini menjadi krisis politik. Ketika jumlah penganggur terdidik meningkat, risiko politik akan menjadi lebih besar,'' "Di Tanjung Priok saja, ada 6.000 buruh menganggur akibat kegiatan ekspor-impor yang berkurang. Mereka adalah kelompok yang sangat mudah disulut sehingga rawan kerusuhan, bila persoalan itu tidak segera diatasi.'' ujar Adi Sasono lebih lanjut. (sw/sd)