Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi
HABIBIE BOHONGI SOEHARTO SOAL PESANAN PESAWAT N-250 DARI AS


JAKARTA (SiaR, 24/2/98), Januari lalu dalam Pidato Revisi APBN, Presiden Soeharto mengatakan, walau pun sesuai kesepakatan dengan IMF, proyek PT.IPTN tak didanai lagi dari dana APBN, namun proyek itu akan tetap diteruskan. Soeharto melaporkan kepada DPR bahwa PT. IPTN menerima pesanan 150 pesawat N-250 dari sebuah perusahaan pos Amerika Serikat dan memperoleh proyek mengerjakan spare-part dari perusahaan pesawat raksasa, Boeing.
Tak lama setelah pidato kenegaraan itu, Duta Besar Amerika Serikat Untuk Indonesia J. Stapleton Roy, mengirim surat kepada Habibie membantah pidato Soeharto bahwa Federal Express (FedEx), perusahaan expedisi AS belum berniat membeli pesawat N-250. Tak ada sebuah media pun di Indonesia yang menindaklanjuti pernyataan Soeharto soal "pesanan" pesawat yang sebenarnya tak ada ini.

Surat Duta Besar AS itu itu selengkapnya berbunyi:

"Mister Minister:

I Spoke by telephone with Federal Express (FedEx) Chairman Fred Smith on January 20, 1988. He confirmed that FedEx had held discussions with Dr. Habibie concerning FedEx's requirements for a larger turboprop airplane to feed into their global aviation network, where they operate 600 aircraft.

The contact was arranged through Brian Roe, who worked with GE Aircraft engine development for many years. More recently, he has been a friend and advisor of Dr Habibie, and he suggested to FedEx that they look at the N-250 to see whether it was suitable for FedEx needs.

FedEx sent a team of technical people, who concluded that the aircraft being built was too small for FedEx requirements.

The FedEx team also began discussions concerning possible FedEx interest in a lager capacity follow-on aircraft that is still in the planing stage. (I understand from separate conversations that this follow-on aircraft may involve putting the wings of the N-250 on the body of the CN-235). This aircraft has not yet been developed. FedEx would be interested in looking at it but has not yet been able to evaluate its suitability for their needs.

That is my understanding of the current status of this issue, based on my telephone call.

Sincerely,

signed,

J. Stapleton Roy"


Terjemahan bebas:

"Saudara Menteri,

Saya telah berbicara lewat telepon dengan Fred Smith, pimpinan Federal Express (FedEx), pada tanggal 20 Januari 1998. Ia membenarkan bahwa ia telah melakukan pembicaraan dengan Dr Habibie tentang perlunya penambahan armada pesawat turboprop yang lebih besar untuk jaringan penerbangan globalnya yang sampai saat ini telah menggunakan 600 pesawat terbang.

Kontak tersebut telah terlaksana atas jasa Brian Roe karyawan GE yang telah bekerja di bagian pengembangan mesin-mesin pesawat terbang selama bertahun-tahun. Lebih jauh lagi, ia adalah kawan dan penasehat Dr. Habibie dan pernah menyarankan kepada FedEx untuk melihat kemungkinan digunakannya pesawat terbang N-250 sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan armada penerbangan FedEx.

FedEx mengirimkan sebuah tim teknis yang menyimpulkan bahwa pesawat terbang jenis itu terlalu kecil untuk kebutuhan mereka.

Tim FedEx juga telah mendiskusikan kemungkinan digunakannya pesawat terbang type baru yang saat ini masih dalam tahap perencanaan. (Dari beberapa pembicaraan terpisah, saya mendapatkan informasi bahwa pesawat baru ini mungkin akan menggunakan sayap N-250 yang akan dipasangkan ke bodi N-235). Pesawat terbang ini belum dibuat. FedEx rupa-rupanya tertarik dengan kemungkinan penggunaannya, tetapi belum bisa melakukan evaluasi apakah jenis pesawat ini cocok untuk kebutuhan armada penerbangannya atau tidak.

Itu lah yang saya ketahui tentang hal tersebut, berdasarkan pembicaraan telepon saya (dengan Fred Smith)

Hormat saya,

ttd.

J. Stapleton Roy"