Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi
Massa Bayaran Pro-Habibie Serang Mahasiswa di Gedung DPR/MPR


From: "Kris Puspo"
Kericuhan kelompok pro-kontra Habibie di DPR/MPR

Jumat (22/5) siang, ribuan mahasiswa yang sejak beberapa hari menduduki gedung DPR/MPR Senayan mendadak dikejutkan datangnya massa yang menamakan dirinya Komite Aksi Umat Islam Indonesia, yang terdiri dari beberapa ormas, diantaranya Gerakan Pemuda Islam (GPI) asal Banten dan Serikat Pelajar Islam Indonesia (SPMI). Mereka datang berbondong-bondong sambil meneriakkan yel-yel mendukung Habibie sebagai presiden pengganti Soeharto.
Kedatangan yang mengejutkan ini segera mendapat reaksi defensif dari mahasiswa, oleh karena mereka tampak sangat kasar dalam memasuki arena demonstrasi. Bahkan pada saat mahasiswa berusaha menahan laju mereka di dekat tangga utama dengan barikade manusia, beberapa orang dari pendukung Habibie ini melakukan pemukulan, ada yang menggunakan pentungan, kepada mahasiswa, sehingga seorang mahasiswa terluka kena pentungan. Dalam waktu sekitar 30 menit, beberapa kali barikade mahasiswa bobol, hingga terobosan ke tiga pertahanan terakhir mahasiswa di tangga gedung utama bobol. Massa pendukung Habibie akhirnya berhasil menduduki tangga dan bertahan beberapa waktu di sana.

Kontak fisik segera dapat dihentikan. Mahasiswa yang menuntut reformasi total termasuk menolak naiknya Habibie ke kursi presiden segera menahan diri, bahkan melarang beberapa dari mereka yang meneriakkan yel-yel anti Habibie, untuk menghindarkan kekerasan. Mereka menaikkan spanduk-spanduk bertuliskan dukungan kepada habibie, antara lain berbunyi: "Siapa yang menolak Habibie akan berhadapan dengan ABRI dan Islam".
Setelah itu, situasi menjadi berangsur-angsur tenang kembali. Yang menarik, massa datang serempak dalam jumlah besar (rombongan pertama mencapai 2.000 orang), memakai ikat kepala seragam dan membawa spanduk dukungan Habibie yang ditulis rapi. Tampak sekali mereka telah dipersiapkan secara matang. Seorang juru bicara (ketua komite?) menyatakan mendukung reformasi konstitusional, apapun yang direformasi harus konstitusional. Maka, mereka mendukung Habibie sebagai presiden karena dianggap konstitusional. Selain itu, ia menyatakan telah mensinyalir adanya kepentingan kelompok-kelompok tertentu yang menunggangi gerakan reformasi di gedung DPR/MPR itu, dan itu harus dihilangkan.
Menurut keterangan seorang pejabat Bapepam yang berkantor di Jl. Sudirman, Senayan, ia mengamati dari atas gedung Bapepam bahwa massa pendukung Habibie sebelumnya berkumpul di sisi Timur Stadion Utama Senayan sebelum bergerak ke gedung DPR/MPR, tempat yang sama digunakan persiapan Pemuda Pancasila sebelum menuju gedung DPR/MPR tgl. 19 Mei 1998 lalu.
Selain itu, seorang anggota massa pendukung Habibie sempat diwawancarai oleh sebuah radio swasta di Jakarta mengatakan, dirinya tidak tahu menahu tentang aksi mendukung Habibie itu. Ia hanya dibayar Rp.20.000,00 untuk ikut serta dalam gerakan pembersihan puing-puing di gedung DPR/MPR pagi itu.
Menurut pengamatan seorang aktivis di dalam halaman gedung DPR/MPR, beberapa anggota pendukung Habibie tampak bengong dan kebingungan tak tahu apa yang harus dikerjakan. Kemudian mereka semakin mendekati pintu gerbang dan keluar dari halaman DPR/MPR, entah ke mana. Beberapa dari mereka terdapat bapak-bapak (orang tua). Melihat bahwa aksi mereka menjurus kekerasan, bapak-bapak itu mengundurkan diri. Mereka dikabarkan merasa dibohongi.
Sedangkan menurut keterangan seorang sumber dari sebuah organisasi di Jl. Kramat, Jakarta, massa yang mendukung Habibie itu berasal dari kelompok Kisdi dan massa beberapa pondok pesantren. Mereka datang ke sana sebenarnya ingin melaksanakan sholat Jumat. Seorang aktivis mahasiswa IPB berhasil mencari keterangan dari seorang Dandim, yang mengatakan bahwa kalau situasi di dalam DPR/MPR rusuh, maka pasukan Kostrad akan membereskan. Keterangan terakhir dari tim relawan, situasi gedung DPR/MPR sudah berhasil dikuasai mahasiswa. Massa pendukung Habibie bertahan di sana hingga sore, dan pada sekitar pk. 17.00 mereka keluar dari gedung DPR/MPR.

mabuhay