Make your own free website on Tripod.com
Suluh Demokrasi
WAHANA LINGKUNGAN


Salah satu masalah besar bagi lingkungan di bumi kita yang tercinta ini adalah masalah sampah. Sampah di planet ini setiap menitnya bertambah dan tidak pernah berkurang. Pada akhirnya bumi akan penat menanggung banyaknya sampah yang menyumbat setiap pori-porinya. Masalah sampah sudah lama masuk agenda paraa pencinta lingkungan hidup. Bagaimana pun harus dicarikan solusi yang tepat guna dan tepat waktu agar tingkat penimbunan sampah tidak terus melaju meninggalkan tingkat pembersihannya.

Sebentar... Dapatkah sampah dibersihkan ? Kalau menurut anda membersihkan sampah adalah membuang segala macam barang-barang kotor dan tak berguna ke tong sampah dan kemudian diangkut oleh truk dinas kebersihan, maka sampah (di rumah anda...) telah dibersihkan. Kemudian pernahkah anda berpikir, setelah dari rumah anda kemana gerangan sampah itu dibawa ? Ke tempat penimbunan sampah tentunya ! Anda benar lagi.
Lalu setelah ditimbun di tempat itu apa yang dialami oleh sampah itu ? Diambil beberapa jenis sampah yang masih berguna oleh pemulung dan sisanya (mungkin) dibakar. Nah, disini masalah mulai timbul. Kalau sampah dari rumah anda itu adalah kertas, tisu, sisa-sisa makanan, daun-daun kering dan kotoran hewan maka anda bisa bernapas lega karena sampah anda bisa "diterima" oleh bumi, dalam arti sampah itu akan bisa diuraikan untuk kemudian bersatu lagi dengan sekelilingnyaa. Tetapi apabila sampah anda itu adalah plastik, yang bisa saja berupa botol minuman kemasan, botol shampo, tempat kosmetik, mainan plastik, kantung belanja dari supermarket, ember bocor, kursi plastik, dsb, maka sampah anda itu tidak "diterima" oleh bumi.

Konon kabarnya ada proses daur ulang yang bisa me-"reformasi" sampah plastik itu menjadi benda yang berguna. Tetapi ternyata hal ini tidak juga memecahkan masalah. Karena proses daur ulang itu hanya merupakan proses ubah bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya yang kualitasnya semakin menurun. Misalnya kursi plastik yang didaur ulang menjadi sebuah ember plastik yang berwarna hitam yang biasa dipakai untuk mengaduk semen. Sampah itu masih tetap ada, hanya saja berubah bentuk dari kursi menjadi ember. Lalu proses itu akan berulang sejuta kali, sementara itu manusia tidak menyadari bahwa setiap bentuk daur ulang dari plastik hanyalah pengkamuflase-an dari penimbunan sampah plastik itu sendiri. Jadi saudara-saudara sekalian, ternyata sampah plastik yang didaur ulang itu ternyata masih tetap sampah juga !

Kita tidak bisa juga untuk menghindari secara total penggunaan plastik dalam kehidupan kita sehari-hari. Satu-satunya cara saat ini yang bisa kita lakukan untuk menolong bumi yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita ini adalah dengan MENGURANGI sedapat mungkin pemakaian plastik. Anda tentunya tidak ingin mewariskan bumi penuh sampah kepada anak cucu. (???!!!!!)

Emph, yang pasti saya tidak rela...